Didalam lautan kesadaran Leena, Yan Ruyan terdiam setelah melihat tekad yang di keluakan Leena. Dia menatap Leena lama tanpa berkedip. Cahaya halus di sekelilingnya bergetar pelan. Akhirnya ia menghela napas panjang.

"Kau terlalu naif. Begitu juga dengan kekasihmu. Tapi kalau kau benar-benar ingin melindungi mereka semua seperti yang kau katakan, maka kekuatanmu sekarang tidak akan pernah cukup"

Leena menunduk. Genggaman tangannya menguat. Ia tahu itu benar. Dunia para kultivator bukanlah tempat yang mudah. Banyak yang jauh lebih kuat darinya. Dan sekarang, dia mengetahui ada dunia surgawi yang jauh lebih kuat lagi.

"Aku tidak ingin hanya menjadi orang yang dilindungi" gumamnya lirih namun penuh tekad. "Aku ingin cukup kuat untuk melindungi Lynx. Bersamanya, aku ingin melindungi semua orang yang kami sayangi. Aku tidak ingin menjadi beban"

Perlahan, Leena berlutut di hadapan Yan Ruyan. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, suaranya bergetar.

"Aku mohon. Ajari aku. Jadilah guruku. Ajarkan aku teknik yang bisa membuatku lebih kuat"

Yan Ruyan menatapnya dalam diam. Ada keteduhan dan sekaligus perhitungan di balik sorot matanya.

Perempuan ini... pikirnya. Dia bukan orang yang tidak tahu balas budi. Dengan hati yang sekuat ini, dia bisa menjadi alat yang berguna. Setidaknya, untuk membantuku menghadapi musuh-musuhku. Atau... membantuku pulang.

"Aku akan mengajarimu" ucap Yan Ruyan perlahan. "Tapi dengan syarat"

Leena mengangkat wajahnya. "Apa pun itu, aku akan..."

"Pertama, kau harus merahasiakannya dari Lynx. Jangan sampai dia tahu teknik yang kuajarkan padamu. Kedua, jangan gunakan teknik-teknik ini kecuali dalam keadaan benar-benar terdesak. Aku tidak ingin musuh-musuhku mengetahui bahwa aku masih ada di dunia ini"

Leena mengangguk mantap. "Aku mengerti"

Yan Ruyan kembali memandangnya lama. Lalu ia menoleh ke kejauhan. Ada pertanyaan yang selama ini mengganjal di benaknya.

"Dari mana sebenarnya asal kekuatan Lynx? Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, seharusnya dia tidak berada di dunia bawah. Mungkin dia memang melatih tubuh surgawi, tapi tingkat spiritualnya terlalu rendah. Forging Qi tingkat dua? Itu sangat janggal. Sesuatu tidak cocok."

Namun Yan Ruyan memilih menyimpannya sendiri. Ia tidak ingin membuat Leena curiga. Dia bisa menggalinya perlahan.

***

Pemimpin perampok hendak masuk kembali ke dalam pondok. Namun saat ia baru saja berdiri, tubuhnya tiba-tiba menegang. Matanya membelalak, dan napasnya tercekat. Sosok yang mereka takuti... kini berdiri tepat di depannya.

Pemuda itu. Pemuda dengan aura gelap mengerikan yang tak mungkin dilupakan.

Tanpa pikir panjang, pemimpin perampok langsung jatuh berlutut.

"Tu-tuan..." suaranya gemetar, tak mampu menyembunyikan rasa takut yang menusuk sampai ke tulangnya.

Mendengar suara pemimpin mereka, para anak buahnya yang berada di dalam pondok segera bergegas keluar. Beberapa lainnya yang berjaga di sekitar pondok pun berdatangan, penasaran dengan keributan itu.

Namun begitu mata mereka menangkap sosok yang berdiri tenang di hadapan pemimpin mereka, detik itu juga wajah-wajah mereka memucat.

Tanpa aba-aba, satu per satu dari mereka ikut berlutut, berdiri sejajar dengan pimpinan mereka.

"Tu-tuan... mohon... mohon ampuni kami... jangan bunuh kami..."

"Kami tidak bermaksud menyinggung... kami hanya perampok kecil..."

Lynx memandang mereka tanpa ekspresi. Sorot matanya tajam, dingin, dan penuh tekanan tak kasat mata.

Namun di dalam benaknya, satu hal kini semakin menguat, "orang-orang ini... mereka tahu sesuatu. Aku harus mencari cara mendapatkan informasi dari mereka."

"Aku akan membunuh kalian semua," ucap Lynx datar, suaranya dalam dan bergema menakutkan. "Jika ada satu saja dari kalian yang berani berbohong... kalian semua mati. Sekarang katakan. Kenapa kalian lari saat melihatku?"

Pemimpin perampok menunduk dalam-dalam. Matanya melirik ke arah para anak buahnya yang sama paniknya. Wajahnya menunjukkan kebimbangan yang dalam. Jika mereka bicara, mereka mungkin akan dibunuh karena dianggap mengetahui hal yang tidak seharusnya mereka ketahui. Tapi jika mereka diam... mereka pasti akan dibunuh oleh pemuda ini.

Lynx memperhatikan ekspresi mereka satu per satu. Dengan tenang, ia melangkah maju. Suaranya kini seperti suara kematian itu sendiri.

"Jika kalian tidak bicara, aku bunuh kalian semua. Tapi..." Lynx mengangkat satu tangannya, dan dari tubuhnya, semburat aura hitam pekat muncul, mengalir keluar seperti kabut iblis yang mencekam.

"Aku akan membebaskan kalian... jika kalian jujur... dan merahasiakan pertemuan ini."

Aura iblis itu membuat seisi pondok seperti direndam dalam malam tanpa bintang. Nafas mereka tercekat, keringat dingin mengucur deras.

Akhirnya, pemimpin perampok bicara dengan suara bergetar, terbata-bata.

"A-ampuni kami, Tuan... Kami... kami tidak sengaja... saat itu kami sedang bersembunyi... beristirahat di atas pohon... dan kami melihat Tuan datang... dan bertemu dengan seorang wanita..."

Lynx menatapnya tajam. "Wanita?"

"I-iya... seorang wanita... dia menyerahkan sesuatu kepada Tuan... sebelum dia... sebelum dia tewas..."

Salah satu anak buahnya menambahkan dengan ekspresi ketakutan saat mengingat kejadian tersebut, "Dia... kami melihatnya, dia sangat kesakitan, Tuan... matanya... terlihat menahan rasa tersiksa yang sangat luar biasa...sebelum tubuhnya meledak."Mereka semua merasa sangat ketakutan saat mendengar teriakan memilukan dari wanita tersebut. Pemandangan urat-urat hitam muncul dibawah kulitnya  dengan tubuh mengejang-ngejang dan akhirnya meledak, tidak bisa lepas dari ingatan mereka.

Lynx terdiam sejenak. Pikirannya bergerak cepat, mencoba menyusun potongan-potongan itu.

"Wanita... siapa yang mereka maksud? Aku harus mengetahuinya siapa tahu berguna." batin Lynx.

Matanya menyipit, lalu ia berkata perlahan, namun dengan nada mengancam, "Jadi... kalian melihatnya. Bagus. Aku tidak akan membunuh kalian. Tapi mulai sekarang... kalian harus tutup mulut. Dan tunduk kepadaku."

Pemimpin perampok langsung membungkuk lebih dalam, wajahnya berubah menjadi penuh harapan.

"Kami... kami bersedia, Tuan! Kami akan tunduk! Kami akan diam! Demi hidup kami... kami bersumpah!"

Lynx menatapnya dingin. "Bagus."

Ia lalu bertanya, "Kau tahu siapa wanita yang aku temui?"

Pemimpin itu mengangguk cepat. "Tentu! Kami mengenalnya, Tuan! Dia... dia pemilik rumah makan Paviliun Seribu Rasa... Nyonya Chen Xue..."

Lynx terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Chen Xue.... Jadi Yin Yue adalah orang yang mereka lihat. Akhirnya, aku mendapat sebuah petunjuk."

Lynx menatap tajam ke arah pemimpin perampok, matanya menyipit, menyelidik setiap detail wajahnya.

"Apa kamu yakin melihat wanita itu mati?" tanya Lynx pelan, tapi tekanan dalam suaranya membuat udara seakan membeku. "Apakah kamu... melihat kematiannya?"

Pemimpin perampok menelan ludah, merasa bingung dengan pertanyaan yang diberikan. Dia merasa seolah pemimpin tersebut menguji mereka, segera kemudian dia mengangguk perlahan. "I-iya, Tuan... setelah wanita itu memberikan benda kepada Tuan... tubuhnya... tiba-tiba mengeluarkan urat-urat hitam dan tubuhnya memancarkan qi hitam..." Ia menunduk semakin dalam. "Seperti milik Tuan... dan... dan dia mati seketika... tubuhnya menghitam, lalu meledak..."

Lynx masih berdiri tegak di hadapan mereka, tatapannya tak berpaling. "Apalagi yang kamu tahu?" tanyanya, lebih dingin daripada sebelumnya.

Pemimpin itu menarik napas cepat, berusaha mengendalikan ketakutannya. "Se-seusai kejadian itu... kami hanya... hanya diam ketakutan, Tuan. Kami melihat Tuan pergi ke arah Desa Chiyang. Kami tidak berani mendekat. Tapi setelah yakin Tuan telah pergi... kami mengikuti jejak ke sana... dari kejauhan..."

Ia terdiam sesaat, matanya gemetar.

"A-apa yang kalian lihat?" desak Lynx.

"Kami melihat Tuan menghilang begitu saja... dan... dan semua penduduk desa... mereka... mereka saling membunuh..." suaranya lirih penuh horor. "Mereka seperti kehilangan kendali... dan tubuh mereka... mengeluarkan aura seperti Tuan... aura hitam seperti..." Pimpinan tidak berani melanjutkan kata-katanya.

Suasana hening. Hanya suara napas tertahan dan detak jantung panik yang terdengar.

Lynx mendekat selangkah. Tekanan auranya meningkat.

"Yakin tidak ada lagi yang belum kalian katakan?"

Detik itu juga, semua perampok serentak bersujud, wajah mereka pucat, tubuh gemetar hebat.

"Tidak ada, Tuan! Kami bersumpah! Kami tidak menyembunyikan apa pun!"

"Demi langit dan bumi, kami sudah katakan semua!"

"Kami tak ingin mati, Tuan! Mohon percaya!"

Lynx menatap mereka satu per satu. Wajah-wajah ketakutan, tak ada keberanian tersisa. Ia terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas perlahan.

Dalam sekejap, tubuhnya lenyap dari pandangan. Tak ada jejak, tak ada suara, seolah ia hanya bayangan yang lewat dalam mimpi buruk.

Para perampok masih berlutut, tak berani mengangkat kepala.

Mereka saling melirik penuh tanda tanya. Apa arti semua ini? Apakah mereka baru saja diajak bergabung? Atau hanya diampuni untuk hari ini?

Namun satu hal yang pasti...

Mereka semua bersyukur.

Mereka masih hidup.

Mereka lolos... dari kematian.

